Efendi, Ahmad Abdul Aziz (2026) Makna lā ikrāha fid-dīn dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 256 (Pendekatan Ma’nā Cum Maghzā). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.
|
Text (COVER - ABSTRAK)
COVER - ABSTRAK.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version Download (990kB) |
|
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version Download (563kB) |
|
|
Text (BAB V - DAFTAR PUSTAKA)
BAB V - DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (687kB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
Full Text.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman yang tepat terhadap prinsip kebebasan beragama dan toleransi dalam Islam, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. QS. al-Baqarah ayat 256 yang memuat ungkapan lā ikrāha fīd-dīn sering dipahami sebagai dasar bahwa tidak terdapat paksaan dalam beragama. Namun, pemaknaan terhadap ayat tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam agar tidak berhenti pada pemahaman literal, tetapi juga dapat mengungkap makna historis dan pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat kontemporer. Hal tersebut menjadi semakin penting karena dalam praktik kehidupan beragama masih ditemukan berbagai persoalan intoleransi, diskriminasi, gangguan terhadap kegiatan peribadatan, serta bentuk-bentuk pembatasan terhadap kebebasan beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna historis (al-ma‘nā al-tārīkhī), signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārīkhī), dan signifikansi fenomenal dinamis kontemporer (al-maghzā al-mutaḥarrik al-mu‘āṣir) dari frasa lā ikrāha fīd-dīn dalam QS. al-Baqarah ayat 256. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan ma’nā cum maghzā yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Data penelitian diperoleh dari al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, hadis, literatur kebahasaan, karya-karya yang berkaitan dengan ma’nā cum maghzā, serta berbagai literatur yang relevan dengan kebebasan beragama dan toleransi. Analisis dilakukan dengan memperhatikan aspek kebahasaan, konteks historis, asbāb al-nuzūl, konteks sosial masyarakat pertama penerima al-Qur’an, serta mengembangkan pesan utama ayat dalam konteks kehidupan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama, lā ikrāha fī al-dīn secara historis bermakna larangan melakukan pemaksaan terhadap seseorang untuk menerima Islam atau keyakinan tertentu. Keimanan harus lahir dari kesadaran dan keyakinan, bukan karena tekanan atau paksaan. Kedua, signifikansi fenomenal historis ayat menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh diselesaikan dengan pemaksaan agama, bahkan ketika perbedaan tersebut terjadi dalam hubungan keluarga dan masyarakat. Ayat tetap mempertahankan klaim bahwa terdapat perbedaan antara jalan yang benar (al-rushd) dan jalan yang sesat (al-ghayy), sehingga larangan pemaksaan tidak berarti relativisme teologis. Ketiga, signifikansi fenomenal dinamis kontemporernya menunjukkan bahwa pesan lā ikrāha fī al-dīn dapat dikembangkan sebagai prinsip etis-teologis dalam menghormati kebebasan beragama, membangun toleransi antarumat beragama, mendorong dakwah yang persuasif dan dialogis, serta menciptakan kehidupan masyarakat plural yang damai. Dengan demikian, seorang Muslim tetap dapat meyakini kebenaran agamanya sekaligus menghormati kebebasan orang lain dalam menentukan keyakinannya.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Lā Ikrāha Fī al-Dīn, QS. al-Baqarah Ayat 256, Kebebasan Beragama, Toleransi, Ma’nā Cum Maghzā. |
| Subjects: | Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Tafsir Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 29 Sep 2026 04:04 |
| Last Modified: | 29 Sep 2026 04:04 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/35623 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
