Simbol Komunikasi Keluarga dalam Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis

Syaidmad, Rivoga (2026) Simbol Komunikasi Keluarga dalam Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.

[img] Text (COVER)
COVER SKRIPSI RIVOGA.pdf - Published Version

Download (679kB)
[img] Text (BAB I)
BAB 1 SKRIPSI RIVOGA.pdf - Published Version

Download (311kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III SKRIPSI RIVOGA.pdf - Published Version

Download (320kB)
[img] Text (BAB V)
BAB V SKRIPSI RIVOGA.pdf - Published Version

Download (258kB)
[img] Text (FULL TEXT)
SKRIPSI RIVOGA FULL TEXT.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dengan dinamika komunikasi keluarga melalui simbol verbal dan nonverbal yang sarat makna emosional. Penelitian ini mengkaji simbol-simbol tersebut untuk memahami pesan, nilai, dan dampaknya terhadap hubungan orang tua dan anak yang ada dalam film Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi pertanyaan penelitian yaitu : 1) Bagaimana simbol komunikasi verbal dalam fil Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis 2) Bagaimana Simbol Komuninasi non Verbal dalam Film Bolehkah Sekali Saja Ku menangis ? Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika ferdinand de Saussure. Objek utama penelitian adalah film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis. Data Primer di peroleh langsung dari Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis sedangkan Data Sekunder poster, review, dan trailer resmi film “Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis” yang memuat simbol visual sebagai penunjang analisis. Adapun Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis merepresentasikan komunikasi keluarga yang tidak sehat melalui simbol verbal dan nonverbal yang mencerminkan relasi kuasa timpang, kekerasan emosional, serta tekanan psikologis. Dialog bernada tinggi, kata-kata menyalahkan, dan gestur dominatif tokoh ayah menjadi penanda komunikasi otoriter, sementara sikap diam, ekspresi takut, dan bahasa tubuh tertutup tokoh Tari dan ibunya merepresentasikan trauma dan ketidakberdayaan. Melalui analisis semiotika Ferdinand de Saussure, keterkaitan antara signifier dan signified membangun makna tentang luka batin, proses penyembuhan emosional, serta pentingnya dukungan empatik, yang ditunjukkan melalui kehadiran support group sebagai simbol komunikasi alternatif yang sehat, sehingga film ini berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga media edukatif tentang pentingnya komunikasi keluarga dan kesadaran kesehatan mental.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Simbol, Semiotika. komunikasi keluarga, film
Subjects: Tajuk Subjek > 300 Ilmu Sosial > Komunikasi
Divisions: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Depositing User: Ruang Baca FDIK
Date Deposited: 06 Mar 2026 03:06
Last Modified: 06 Mar 2026 03:06
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/32945

Actions (login required)

View Item View Item