Kisah Terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari Surga Perspektif Teori Ma’nā-Cum-Maghzā

Islami, Suci Afifah (2025) Kisah Terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari Surga Perspektif Teori Ma’nā-Cum-Maghzā. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover-Daftar Isi)
Cover-Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (777kB)
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (437kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (299kB)
[img] Text (BAB V dan Daftar Pustaka)
BAB V dan Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (418kB)
[img] Text (Full Text)
Full Text.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Fokus penelitian ini mengangkat permasalahan interpretasi ma’nā-cum-maghzā terhadap kisah terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga di dalam QS al-Baqarah (2): 35-36. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan: 1) penafsiran makna historis (al-ma'nā al-tārīkhī), 2) menjelaskan signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārikhī), 3) menjelaskan signifikansi dinamis kontemporer (al-maghzā al-mutaharrik al-mu’assir) di dalam QS al-Baqarah (2): 35-36 terhadap kisah terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka atau (library research) dengan pendekatan penelitian hermeneutika. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan, mengolah serta menyimpulkan data yang ada dengan menggunakan teori ma’nā-cum-maghzā dalam menafsirkan kisah terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga pada QS al-Baqarah (2): 35-36. Sumber data penelitian dengan mencari berbagai sumber seperti buku, jurnal, kitab-kitab tafsir dan kamus bahasa. Teknik pengumpulan data dimulai dengan menentukan tema, menelusuri asbābun nuzūl dari ayat yang diteliti, mencari munāsabah ayat dengan ayat sebelumnya, mengelompokkan kosa kata sesuai dengan pembahasan yang diteliti, memilih lafaẓ yang akan diteliti. Hasil dari penelitian ini adalah ; pertama, penafsiran makna historis (al-ma'nā al-tārīkhī) pada QS al-Baqarah (2): 35-36 menunjukkan bahwa makna kata dalam ayat-ayat ini luas dan tidak monoton. Kedua, signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārikhī) terdapat beberapa poin, yaitu ; 1) kenikmatan, kebahagiaan serta kesenangan. 2) pondasi yang kuat dan kukuh (tauhid) yang dijadikan sebagai tempat bersandar, memberikan buah, tempat berteduh. 3) berpindah tempat dan juga pesan bahwa Allah Swt memberikan perintah bagi setiap hambanya agar tidak melakukan dosa dan sekiranya melakukan dosa segera bertaubat dan juga tidak mengulangi kembali hal tersebut. Ketiga, signifikansi dinamis kontemporer (al-maghzā al-mutaharrik al-mu’assir) terdapat beberapa poin, yaitu; 1) segala sesuatu yang memuaskan fisik terutama hawa nafsu. 2) suatu sistem yang matang atau tatanan kehidupan yang baku dan sesuai dengan misi yang tidak dapat dilanggar. 3) proses perpindahan untuk menjalankan misi. Nabi Adam diusir atau tidak diusir dari surga ia tidak akan tetap berada di surga, karena pada prinsipnya ia sebagai khalifah fῑl ardh dan kalau ia tetap di surga maka tidak bisa jadi khalῑfah fῑl ardh, karena di surga hanya ada kenikmatan tanpa ada ujian. Selanjutnya, orang yang melakukan dosa bisa menghinakan dirinya sendiri serta bisa membuat kita jauh dari yang Maha Kuasa yakni Allah Swt.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Kisah, Nabi Adam, Ma’nā-Cum-Maghzā
Subjects: Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Cerita dan Kisah dari Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Ruang Baca FUSA
Date Deposited: 14 Mar 2025 01:27
Last Modified: 14 Mar 2025 01:27
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/26450

Actions (login required)

View Item View Item