Penafsiran Qs. An-Nisā’ [4]:34 dalam Perspektif Tafsir Al-Ṭabarī, Al-Qurṭubī, dan Amīna Wadūd: Analisis Hermeneutika Hans Georg Gadamer

Oktasandi, - (2026) Penafsiran Qs. An-Nisā’ [4]:34 dalam Perspektif Tafsir Al-Ṭabarī, Al-Qurṭubī, dan Amīna Wadūd: Analisis Hermeneutika Hans Georg Gadamer. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover - Daftar Isi)
Oktasandi_2320080053_Cover-Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (979kB)
[img] Text (BAB I)
Oktasandi_2320080053_BAB I.pdf - Published Version

Download (280kB)
[img] Text (BAB III)
Oktasandi_2320080053_BAB III.pdf - Published Version

Download (283kB)
[img] Text (BAB V-Daftar Pustaka)
Oktasandi_2320080053_BAB V-Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (290kB)
[img] Text (Fulltext)
Oktasandi_2320080053_Fulltext.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika penafsiran QS. An-Nisā’ [4]:34 (ayat yang memuat isu krusial mengenai qiwamah, nusyuz, dan ḍarb) melalui perspektif komparatif lintas tiga periode sejarah tafsir. Fokus utama penelitian adalah mengeksplorasi mengapa teks yang sama menghasilkan konstruksi makna yang berbeda ketika dibaca oleh mufassir dengan cakrawala historis yang berlainan. Tokoh yang dipilih sebagai representasi periodisasi adalah Al-Ṭabarī (periode klasik), Al-Qurṭubī (periode pertengahan), dan Amīna Wadūd (periode kontemporer). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka hermeneutika filosofis Hans Georg Gadamer sebagai instrumen analisis utama. Data primer dalam penelitian ini ialah kitab tafsir Al-Ṭabarī, Al-Qurṭubī, dan buku monograf Amīna Wadūd. Adapun sumber sekundernya ialah buku-buku ilmu al-Qur’an, Jurnal, Majalah, Skripsi, Tesis, maupun Disertasi, dan artikel lain atau sumber bacaan yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ṭabarī menetapkan qiwamah sebagai norma universal dengan pendekatan bil-ma'tsur. Al-Qurṭubī mengelaborasi qiwamah melalui kerangka kondisionalitas fiqhi yang lebih komprehensif. Sementara Amīna Wadūd melakukan dekonstruksi hermeneutis yang memandang qiwamah sebagai tanggung jawab fungsional dan menolak justifikasi kekerasan berbasis gender. Perbedaan ini berakar pada Wirkungsgeschichte (sejarah efektif) yang melatarbelakangi pemikiran mereka Penelitian ini menemukan bahwa perbedaan penafsiran antara Al-Ṭabarī, Al-Qurṭubī, dan Amīna Wadūd terhadap QS. An-Nisā’ [4]:34 bukan merupakan kontradiksi yang saling meniadakan, melainkan manifestasi dari sifat tafsir yang fleksibel dan dinamis. Melalui pisau analisis hermeneutika Gadamer, ditemukan bahwa setiap mufassir melakukan fusi horizon (Horizontverschmelzung) yang unik sesuai dengan kesadaran keterpengaruhan sejarahnya (Wirkungsgeschichte). Dengan demikian, kebenaran penafsiran yang ditawarkan Amīna Wadūd sebagai respons terhadap isu keadilan gender kontemporer tidak otomatis mengeliminasi validitas konstruksi hukum klasik Al-Ṭabarī dan pertengahan Al-Qurṭubī, melainkan memperkaya tradisi tafsir sebagai sebuah living tradition yang mampu berdialog melintasi ruang dan waktu.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Tafsir, An-Nisā’:34, Hermeneutika, Gadamer
Subjects: Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Tafsir
Divisions: Program Pascasarjana > Program Magister > Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Depositing User: Pusat Riset Pascasarjana
Date Deposited: 05 Oct 2026 06:54
Last Modified: 05 Oct 2026 06:54
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/34838

Actions (login required)

View Item View Item