Umar, Ali (2010) Dinamika Tradisi Melihat Bulan di Kalangan Ulama Syattariyah (Studi Kasus di Kabupaten Padang Pariaman Antara Tahun 2003 Sampai 2007). Masters thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Fulltext)
Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Di Kabupaten Padang Pariaman ada tiga perbedaan dalam penetapan awal bulan qamariyah, ada yang mengikuti kalender Muhammadiyah, ada yang mengikuti pengumuman Pemerintah, dan ada pula yang mengikuti tradisi melihat bulan ulama Syattariyah. Sekalipun Pemerintah menetapkan hilal berdasarkan rukyat, namun ulama Syattariyah tidak mengikutinya. Kelompok ini biasanya melihat bulan di Ulakan bertepatan dengan tanggal 01 Ramadhan atau 01 Syawal menurut pengumuman Pemerintah. Kondisi ini telah berlangsung sejak lama dan sudah menjadi tradisi, sehingga layak disebut sebagai tradisi melihat bulan. Uniknya, di kalangan ulama Syattariyah muncul pula varian baru yang menyadari bahwa melihat bulan yang dilakukan selama ini selalu terlambat dari kondisi bulan yang sebenarnya. Kelompok ini melihat bulan di Kamumuan satu hari lebih dahulu dari Ulakan. Adalah satu hal yang aneh jika awal bulan yang sama muncul dalam tiga atau empat hari berturut-turut. Seharusnya awal bulan itu muncul pada tempat yang sama dengan waktu yang bersamaan pula. Ini merupakan satu permasalahan dalam kehidupan beragama di Padang Pariaman. Untuk mengetahui dan mengungkap permasalahan ini perlu dilakukan penelitian. Penelitian dimaksudkan untuk mengungkapkan asal-usul dan perkembangan tradisi melihat bulan serta pengaruhnya terhadap kehidupan bermasyarakat. Penelitian dilakukan di Ulakan dan Kamumuan sebagai lokasi melihat bulan selama lima tahun berturut-turut (1424-1428 Hijriyah). Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi yang dilengkapi dengan wawancara dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan tokoh yang dianggap representatif mewakili kelompoknya. Studi kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data tertulis yang ada pada ulama Syattariyah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah: heuristik, kritik intern dan ekstern, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi melihat bulan tidak lagi identik dengan rukyat hilal menurut hukum fikih. Asal-usul dan dasar tradisi ini adalah Taqwim Khamsiyah. Jika ada informasi hilal yang tidak sesuai dengan taqwim, maka informasi itu ditolak. Walaupun demikian ada pula ulama Syattariyah yang menggugat keabsahan taqwim Khamsiyah. Munculnya kelompok ini merupakan satu dinamika yang inovatif. Sekalipun perbedaan penetapan tanggal 01 Ramadhan, 01 Syawal, dan 10 Zulhijjah tidak membawa dampak negatif pada kerukunan hidup beragama di tengah masyarakat, namun kesatuan umat Islam dalam hal ini perlu diwujudkan. Adanya wacana dari kalangan internal Syattariyah yang menggugat keabsahan taqwim perlu menjadi perhatian Badan Hisab dan Rukyat Kabupaten Padang Pariaman. Agaknya keberadaan kelompok ini dapat dijadikan sebagai agent of change dari dalam.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Sosial dan Budaya Islam > Peringatan Hari Besar Islam Tajuk Subjek > Agama Islam > Filsafat dan Perkembangan Islam |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Magister > Sejarah dan Kebudayaan Islam |
| Depositing User: | Zulfitri Zulfitri |
| Date Deposited: | 15 Jul 2026 08:32 |
| Last Modified: | 15 Jul 2026 08:32 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/34616 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
