Mubarok, Rifqi (2026) Resepsi Masyarakat Desa Tanjung Pauh Mudik Kecamatan Keliling Danau Kapbupaten Kerinci Provinsi Jambi Terhadap QS Ali-Imran: 191 dalam Tradisi Ratib Saman: Studi Living Qur'an. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover-Daftar isi)
RIFQI MUBAROK NIM. 2215050024 Cover-Daftar isi.pdf - Published Version Download (993kB) |
|
|
Text (BAB I)
RIFQI MUBAROK NIM.2215050024 BAB I.pdf - Published Version Download (449kB) |
|
|
Text (BAB III)
RIFQI MUBAROK NIM.2215050024 BAB III.pdf - Published Version Download (387kB) |
|
|
Text (BAB V dan Daftar Pustaka)
RIFQI MUBAROK NIM.2215050024 BAB V dan Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (365kB) |
|
|
Text (fulltext)
RIFQI MUBAROK NIM. 2215050024 SKRIPSI FULL TEXT.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh eksistensi tradisi Ratib Saman di Desa Tanjung Pauh Mudik yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masuknya Islam ke wilayah tersebut. Tradisi ini menarik perhatian karena melibatkan praktik zikir berdiri (Ratib Tegak) yang secara spesifik didasarkan oleh masyarakat setempat pada pemahaman terhadap Qs. Ali-Imran: 191. Fenomena ini menunjukkan adanya interaksi dinamis antara teks suci Al-Qur'an dengan praktik budaya lokal, di mana ayat tersebut tidak sekadar dibaca, tetapi dihidupkan dalam wujud ritual zikir yang sistematis. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan Living Qur’an. Lokasi penelitian berada di Desa Tanjung Pauh Mudik, Kabupaten Kerinci. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam bersama tokoh agama dan masyarakat, serta dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ratib Saman di Desa Tanjung Pauh Mudik berasal dari Tarekat Samaniyah yang didirikan Syekh Muhammad Samman dan menyebar ke Nusantara melalui ulama sufi hingga ke Kerinci. Tradisi ini diperkenalkan oleh Syekh Haji Rikh dan diwariskan sebagai identitas spiritual masyarakat. Prosesi Ratib Saman diawali dengan pembacaan surah-surah pendek dalam posisi duduk, kemudian dilanjutkan zikir berdiri secara berirama dengan gerakan ke kanan dan kiri. Praktik ini didasarkan pada resepsi masyarakat terhadap Qs. Ali Imran: 191, khususnya makna qiyāman berarti berdiri menjadi titik temu resepsi Masyarakat tanjung pauh mudik yang seragam dalam meresepsikan Qs. Ali Imran 191. Ratib Saman dipahami sebagai bentuk penafsiran sosial Al-Qur’an yang diterima luas sebagai praktik ibadah yang sejalan dengan ajaran Islam. l-Qur’an, Ratib Saman, Living Qur’an, Ali-Imran: 19
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Al-Qur’an, Ratib Saman, Living Qur’an, Ali-Imran: 19 |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 09 Jun 2026 09:48 |
| Last Modified: | 09 Jun 2026 09:48 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/32393 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
