Novita, Santy (2025) Kaidah Dhamir dalam Penafsiran Al-Qur'an (Studi Komparatif Tafsir Mafatih al-Ghaib dan Tafsir At-Tahrir wa at-Tanwir. Masters thesis, FAKULTAS USHULUDDIN.
|
Text (Cover sampai Daftar Isi)
Cover sampai Daftar Isi.pdf - Published Version Download (2MB) |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version Download (631kB) |
|
|
Text (Bab III)
BAB III.pdf - Published Version Download (629kB) |
|
|
Text (Bab V-Daftar Pustaka)
BAB V-Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (343kB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penggunaan isim dhamir (kata ganti) dalam Al-Qur’an untuk menghindari pengulangan kata, untuk itu, pemahaman kaidah-kaidah dhamir sangat diperlukan dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Dua mufasir besar, Fakhruddin ar-Razi dan Thahir Ibnu ‘Asyur, dipilih sebagai fokus kajian karena keduanya memiliki pendekatan khas dalam menerapkan kaidah dhamir dalam karya tafsir mereka. Penelitian ini menelusuri sembilan kaidah dhamir sebagaimana dibahas dalam literatur ilmu tafsir dan linguistik Arab, kemudian menganalisis bagaimana kedua mufasir menerapkannya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mafatih al-Ghaib karya ar-Razi yang ditulis pada abad ke-12 M cenderung menggunakan pendekatan rasional-filosofis dengan penjelasan teknis, spekulatif, serta mempertimbangkan perdebatan ulama. Sementara at-Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur yang ditulis pada abad ke-20 M mengedepankan pendekatan kontekstual dan linguistik, serta lebih aplikatif terhadap kondisi umat Islam modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan komparatif, yang membandingkan cara kedua mufasir memahami dan menerapkan sembilan kaidah dhamir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Sumber primer dalam penelitian ini adalah Tafsir Mafatih al-Ghaib dan Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, serta sumber sekunder seperti kitab Qawa‘id al-Tafsīr karya Khalid as-Sabt dan referensi lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ar-Razi cenderung lebih konsisten dalam menerapkan kaidah dhamir karena selalu mempertimbangkan kemungkinan rujukan yang berbeda dan memilih yang paling sesuai konteks. Sebaliknya, Ibnu ‘Asyur sering langsung menetapkan satu rujukan, meskipun secara makna benar, atau menekankan konteks kalimat tanpa menyebut alternatif. Pada kaidah kedelapan, kedua mufasir tidak sepenuhnya sesuai dengan kaidah Khalid As-Sabt, karena dhamir mufrad seharusnya kembali khusus pada lafaz terakhir. Kesimpulannya, Ar-Razi lebih disiplin dalam penerapan prinsip-prinsip kaidah dhamir, sedangkan Ibnu ‘Asyur cenderung fleksibel berdasarkan konteks ayat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman metodologi penafsiran dan penerapan kaidah dhamir dalam ilmu tafsir.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kaidah Dhamir, Tafsir Al-Qur’an, Ar-Razi, Ibnu Asyur, Studi Komparatif |
| Subjects: | Agama Islam Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Tafsir |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Magister > Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir |
| Depositing User: | Pusat Riset Pascasarjana |
| Date Deposited: | 04 Sep 2025 04:19 |
| Last Modified: | 04 Sep 2025 04:19 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/27756 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
