Hermeneutika Wilhelm Dilthey untuk Menemukan Makna Al-Qur'an oleh Urang Siak dalam Tradisi Basadakah Kaji

Herlis, Suryadi (2025) Hermeneutika Wilhelm Dilthey untuk Menemukan Makna Al-Qur'an oleh Urang Siak dalam Tradisi Basadakah Kaji. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover-Daftar Isi)
Cover-Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (310kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (314kB)
[img] Text (BAB V)
BAB V.pdf - Published Version

Download (187kB)
[img] Text (Full Text)
Full Text.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tradisi basadakah kaji yang dilaksanakan di Guguak Kayu Tanam. Jika pada biasanya sedekah diberikan dalam bentuk materi, maka dalam konteks ini sedekah diberikan dalam bentuk kaji (bacaan ayat-ayat al-Qur’an). Penelitian ini membutuhkan informasi langsung dari masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, khususnya urang siak, dan peneliti membutuhkan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey, yang menitikberatkan pada pengalaman (Erlebnis), ekspresi (Ausdruck), dan pemahaman (Verstehen) untuk menelusuri makna ayat-ayat al-Qur’an dalam konteks budaya dan spiritual urang siak. Melalui pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana al-Qur’an dipahami dan diamalkan dalam praktik basadakah kaji, serta bagaimana tradisi ini terus dilestarikan sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Islam dalam masyarakat Nagari Guguak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan (field research). Karena metode ini memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap makna, persepsi, dan praktik sosial yang berkembang dalam komunitas urang siak. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan urang siak, serta studi dokumen berupa catatan tertulis, foto, dan rekaman. Sumber data terdiri dari data primer, yaitu informasi langsung dari partisipan penelitian, seperti tokoh penting urang siak. Serta data sekunder dari literatur terkait, seperti buku, jurnal ilmiah, dan sumber digital. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap utama: editing, analisis data menggunakan pisau analisis hermeneutika Wilhelm Dilthey seperti Erlebnis, Ausdruck, dan Verstehen, hingga akhirnya masuk pada langkah penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang sistematis dan komprehensif terhadap praktik basadakah kaji. Dari hasil penelitian ini, peneliti menemukan kesimpulan bahwa: Pertama, sejarah dan perkembangan tradisi Basadakah kaji di Nagari Guguak, Kayu Tanam, menunjukkan bahwa praktik ini merupakan bagian dari warisan budaya yang terus mengalami transformasi sejak sebelum masuknya Islam ke Minangkabau. Berawal dari kebiasaan meratapi jenazah, tradisi ini berkembang menjadi praktik keagamaan yang menekankan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, dan doa, sebagaimana diajarkan oleh Syekh Burhanuddin pada abad ke-17. Kedua, dalam perkembangannya, Basadakah kaji tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan bagi yang telah meninggal, tetapi juga sebagai bentuk living Qur’an yang menegaskan peran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya urang siak. Ketiga, Tradisi ini kemudian dikaji menggunakan konsep hermeneutika Wilhelm Dilthey melalui tiga aspek utama, yakni Erlebnis (pengalaman spiritual), Ausdruck (ekspresi keagamaan), dan Verstehen (pemahaman mendalam terhadap makna tradisi). Dilihat dari sisi Erlebnis, tradisi ini memberikan pengalaman spiritual mendalam bagi urang siak, berupa ketenangan batin dan keyakinan bahwa doa serta bacaan al-Qur’an yang dipanjatkan sampai kepada orang yang telah meninggal. Dari sisi Ausdruck dapat di lihat dari 2 aspek, dari aspek bacaan diketahui bahwa pembacaan surah al-Fatihah sebanyak 3 kali punya mksud tertentu, sedangkan pembacaan ayat lainnya hanya mengikuti arahan orang terdahulu dan dari aspek pelaksanaan terdapat gerakan tertentu yang menggambarkan makna ayat yg di baca. Seterusnya dari sisi Verstehen, tradisi ini dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada yang telah meninggal dan sebagai sarana untuk meningkatkan ibadah serta hubungan sosial. Dalam menjalankan tradisi ini, muncul keyakinan bahwa pahalanya akan mengalir kepada orang yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, basadakah kaji bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga identitas budaya yang memperkuat nilai-nilai keIslaman dan kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Basadakah kaji, Urang siak, dan Hermeneutika.
Subjects: Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Ruang Baca FUSA
Date Deposited: 09 Mar 2025 16:10
Last Modified: 09 Mar 2025 16:10
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/25460

Actions (login required)

View Item View Item