Ansor, Ansor (2025) Pemahaman Esoterik Ayat-ayat Zikir Ism az-Zat Perspektif Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah Surau Bateh. Masters thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover)
COVER.pdf - Published Version Download (3MB) |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version Download (602kB) |
|
|
Text (Bab 3)
BAB III.pdf - Published Version Download (327kB) |
|
|
Text (Bab vi-dapus)
BAB VI-Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (487kB) |
|
|
Text
FULL TEXT.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (7MB) |
Abstract
Ayat-ayat żikir dipahami oleh ulama tafsir sufi sebagai bentuk kedekatan seorang hamba dengan Rab-Nya, misalnya dalam surah al-Anfal ayat 2. Berbeda dengan pemahaman Mursyid Ṭarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah Surau Bateh, ayat tersebut merupakan manifestasi żikir yang diamalkan oleh sālik setelah menerima żikir dari Mursyid. Menurut al-Qusyairī, as-Sulamī, al-Gazhalī dan Abū Naṣr as-Sirraj ini merupakan pemahaman esoterik ayat al-Qur’an yang berasal dari ilmu ladunī atau mauhibah. Namun pendapat itu ditolak oleh Ignaz Goldizher dan Louis Gardet yang mengatakan itu berasal dari olah nalar atau ideolgy oriented seorang mufasir. Tesis ini bertujuan untuk menggali bagaimana bentuk-bentuk pemahaman esoterik Mursyid Ṭarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah Surau Bateh tentang ayat-ayat Żikir Ism az-Żat, bagaimana metode dalam memahami ayat tersebut dan apa implikasinya terhadap perjalanan spiritual para sālik Surau Bateh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis Bogdan dan pendekatan tafsir eksoterik dan esoterik. Hasil temuan, surah Ali Imran ayat 191, hanya menyebut nama Allah di Qalbu yang bisa berkesinambungan 24 jam. Yang menyebut berupa Nūr atau cahaya dari Żikir Ism az-Żat itulah hakikat diri namanya Nūr Muhammad. Surah al-A’raf ayat 205, Qalbu adalah tempat untuk menyebut nama Allah (Żikir Ism az-Żat), lahirnya ilmu Ma’rifat dan ẓauq atau rasa Ma’rifat kepada Allah. Surah al-Anfal ayat 2 bahwa makna wajilat qulubuhum merupakan manifestasi pertama yang dirasakan oleh seorang sālik ketika mengamalkan Żikir Ism az-Żat. Surah ar-Ra’d ayat 28, ketenangan hanya diproleh melalui Żikir Ism azŻat dan sumbernya di Qalbu. Surah al-Ahzab ayat 41, bukti cinta kepada Allah adalah banyak menyebut nama-Nya. Surah az-Zumar ayat 23, Taqsya’irru (kulit merinding), adalah manifestasi kedua setelah merasakan wajilat qulubuhum dalam surah al-Anfal ayat 2. Surah al-Insan ayat 25, menyebut nama Allah tidak ada batasan bukan hanya pagi dan petang. Surah al-Alaq ayat. Kisah Nabi di Gua Hira’ dengan Malaikat Jibril adalah isyarat pentingnya menerima żikir dari Mursyid. Rekomendasi, pertama, Żikir Ism az-Żat merupakan żikir pertama dalam Ṭarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan masih ada 16 tingkatan żikir, tentunya setiap tingkatan itu memiliki landasan dari al-Qur’an dan hadis. Kedua, terbuka ruang untuk melakukan komparasi dengan tarekat lain, karena penelitian ini baru menggunakan satu tarekat. Ketiga, melakukan komparasi dengan Mursyid yang bisa membaca kitab kuning, tentu akan berbeda penafsirannya.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata Kunci: Pemahaman Esoterik, Żikir Ism az-Żat, Mursyid, Ṭarekat, Surau Bateh. |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Magister > Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir |
| Depositing User: | Pusat Riset Pascasarjana |
| Date Deposited: | 09 Sep 2025 11:15 |
| Last Modified: | 10 Sep 2025 00:19 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/30877 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
