Rasionalitas Kebahagiaan Dalam Pemikiran Tasawuf Hamka dan Relevansinya dengan Sosial Kultural di Era Digital

Jamaldi, Jamaldi (2026) Rasionalitas Kebahagiaan Dalam Pemikiran Tasawuf Hamka dan Relevansinya dengan Sosial Kultural di Era Digital. Doctoral thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

[img] Text (cover dll)
5. Disertasi Jamaldi Cover-daftar isi .pdf - Published Version

Download (903kB)
[img] Text (bab 1)
5. Disertasi Jamaldi Bab 1.pdf - Published Version

Download (365kB)
[img] Text (bab 3)
5. Disertasi Jamaldi Bab 3.pdf - Published Version

Download (454kB)
[img] Text (bab vii dapus)
5. Disertasi Jamaldi bab vii dapus.pdf - Published Version

Download (583kB)
[img] Text (fulltext)
5. Disertasi Jamaldi Full.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Dalam budaya digital kontemporer, kebahagiaan semakin sering dipahami melalui visibilitas, konsumsi, produktivitas, popularitas, dan validasi sosial yang bersifat instan, sementara dimensi makna, ketenteraman spiritual, dan pembentukan moral diri kerap terabaikan. Kondisi ini melahirkan problem sosial-kultural yang serius: manusia modern semakin terhubung secara teknologi, tetapi pada saat yang sama semakin rentan mengalami kecemasan, kekosongan spiritual, gaya hidup hedonistik, narsisme digital, dan kehilangan orientasi eksistensial. Dalam konteks tersebut, pemikiran tasawuf modern Hamka menawarkan sumber intelektual Islam yang penting untuk menafsirkan kembali kebahagiaan melampaui kesenangan material dan kepuasan emosional. Namun, kajian-kajian terdahulu tentang Hamka umumnya masih membahas tasawuf, etika, religiusitas, dan pemikiran sosialnya secara deskriptif-normatif, serta belum secara memadai menjelaskan bagaimana konsep kebahagiaan dalam pemikirannya bekerja sebagai konstruksi rasional-spiritual yang relevan dengan tantangan sosial-kultural era digital. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi rasionalitas kebahagiaan dalam pemikiran tasawuf Hamka dengan menelaah kebahagiaan sebagai sa‘ādah, yaitu keadaan ketenteraman batin yang berakar pada tauhid, penyucian jiwa, disiplin moral, dan kedekatan kepada Allah. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana nilai-nilai spiritual seperti zuhud, qana‘ah, sabr, tawakkul, ridha, dan muhasabah berfungsi sebagai dasar rasional bagi tindakan etis. Dengan menggunakan konsep rasionalitas nilai dan rasionalitas instrumental Max Weber, penelitian ini merumuskan Model Kebahagiaan Sufistik Rasional yang mengintegrasikan iman, akal, disiplin diri, dan tanggung jawab sosial sebagai respons Islam terhadap krisis makna, hedonisme, narsisme digital, dan kecemasan dalam kehidupan Muslim kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan kualitatif dengan pendekatan filosofis-hermeneutik. Data primer bersumber dari karya-karya utama Hamka, terutama Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Hidup, Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya, dan Tafsir AlAzhar. Adapun data sekunder meliputi karya-karya ilmiah tentang tasawuf, kebahagiaan dalam Islam, studi Hamka, rasionalitas Weberian, dan budaya digital. Analisis dilakukan melalui identifikasi makna-makna tekstual utama, klasifikasi konsep-konsep sufistik dan etis, interpretasi berdasarkan teori rasionalitas nilai dan rasionalitas instrumental Max Weber, serta kontekstualisasi temuan dalam realitas sosial-kultural era digital.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hamka memahami kebahagiaan sebagai sa‘ādah, yakni kondisi ketenteraman batin yang berakar pada tauhid, tazkiyatun nafs, zuhud, qana‘ah, sabr, tawakkul, ridha, disiplin moral, kejernihan intelektual, dan tanggung jawab sosial. Dalam pemikiran Hamka, kebahagiaan tidak dicapai dengan melarikan diri dari dunia, tetapi dengan menata kehidupan duniawi di bawah bimbingan nilai-nilai ketuhanan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tasawuf Hamka dapat diposisikan sebagai tasawuf modern neo-sufisme substantif, karena tetap mempertahankan perhatian tasawuf klasik terhadap penyucian jiwa, tetapi mereformulasikannya dalam bentuk yang rasional, etis, sosial, dan praktis. Melalui kerangka Weber, konsep kebahagiaan Hamka dapat dipahami sebagai sintesis antara rasionalitas nilai dan rasionalitas instrumental. Rasionalitas nilai tampak pada orientasi terhadap ridha Allah, integritas moral, ketenteraman batin, dan kehidupan yang bermakna. Sedangkan rasionalitas instrumental tampak pada sarana praktis berupa disiplin diri, refleksi, kerja etis, moderasi, keterlibatan sosial, dan penggunaan sumber daya duniawi secara bertanggung jawab. Kontribusi penelitian ini terletak pada perumusan Model Kebahagiaan Sufistik Rasional yang menempatkan tasawuf Hamka sebagai kerangka pemikiran Islam yang hidup, rasional, dan kontekstual dalam merespons krisis kebahagiaan di era digital. Model ini menegaskan paradigma rasional dan etis bagi pembentukan kebahagiaan yang bermakna, seimbang, dan bertanggung jawab secara sosial dalam masyarakat kontemporer

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Akhlak > Tasawuf
Divisions: Program Pascasarjana > Program Doktor > Studi Islam
Depositing User: Maizi Latifa Tifa
Date Deposited: 04 Oct 2026 08:32
Last Modified: 04 Oct 2026 08:32
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/37246

Actions (login required)

View Item View Item