Penafsiran Dzalul Dalam Q.S Al-Mulk Ayat 15 (Pendekatan Teori Ma’na Cum Maghza)

Alfatra, Elgi (2026) Penafsiran Dzalul Dalam Q.S Al-Mulk Ayat 15 (Pendekatan Teori Ma’na Cum Maghza). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover-Abstrak)
Cover.pdf - Published Version

Download (759kB)
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (463kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (277kB)
[img] Text (BAB V & DAFTAR PUSTAKA)
BAB V dan DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (273kB)
[img] Text (Fulltext)
FullText.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi memahami lafaz dzalūlan (QS. Al-Mulk: 15) tidak hanya secara leksikal-tekstual, melainkan melalui konteks historis masa pewahyuan dan relevansinya di tengah kemajuan sains serta krisis ekologi masa kini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyingkap makna historis (ma'nā tārīkhīy), merumuskan pesan historis (maghzā tārīkhīy), dan mereaktualisasikan signifikansi kontemporernya (maghzā mutaḥarrik mu'āṣir) bagi kehidupan manusia modern. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif, dengan mengaplikasikan pendekatan Ma'nā-cum-Maghzā gagasan Sahiron Syamsuddin. Sumber data primer dan sekunder digali dari teks Al-Qur'an, kitab tafsir klasik maupun kontemporer, literatur kebahasaan Arab kuno, serta literatur sains kebumian dan astrobiologi. Analisis data dilakukan melalui serangkaian penelusuran linguistik, intratekstual, intertekstual, dan historis (makro maupun mikro). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara leksikal (ma'nā tārīkhīy), lafaz dzalūlan tidak bermakna "kehinaan", melainkan menunjuk pada kondisi entitas berpotensi liar (bumi) yang secara aktif telah ditundukkan dan dijinakkan agar fungsional. Secara maghzā tārīkhīy, bagi masyarakat Arab nomaden abad ke-7 Masehi, ketundukan bumi ini adalah instrumen teologis yang meruntuhkan nalar politeisme; menyadarkan mereka bahwa kemudahan alam mutlak bersumber dari Allah, sekaligus menjadi undangan perintah untuk berikhtiar secara proaktif. Adapun maghzā mutaḥarrik mu'āṣir lafaz dzalūlan bagi manusia modern terangkum dalam empat dimensi fundamental: (1) Dimensi Ilmiah, di mana sains kontemporer mengonfirmasi bahwa presisi kalibrasi tata surya menjadikan bumi sebagai anomali kosmik yang luar biasa; (2) Dimensi Sistemik, bahwa bencana alam bukanlah pembatalan dzalūlan, melainkan mekanisme pemeliharaan dari sistem bumi itu sendiri; (3) Dimensi Eksistensial, yang menuntut lahirnya sikap rendah hati (tawādhu') manusia di puncak kecanggihan peradaban teknologi; serta (4) Dimensi Ekologis, yang menjadikan pelestarian lingkungan hidup sebagai manifestasi mutlak dari tanggung jawab teologis dan kepatuhan spiritual untuk menjaga amanah ciptaan Allah dari kerusakan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Dzalūlan,Dzalul,Bumi,Jinak,Mudah QS. Al-Mulk ayat 15, Ma‘nā-cum-Maghzā, Maghzā Tārīkhīy, Maghzā Mutaḥarrik Mu‘āṣir.
Subjects: Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Ruang Baca FUSA
Date Deposited: 02 Oct 2026 02:14
Last Modified: 02 Oct 2026 02:14
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/36593

Actions (login required)

View Item View Item