Hadis-hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal perspektif ‘Ala’ al-Din Abi Bakr Ibn Mas’ud al-Kasani al-Hanafi dalam Badai’ Shanai’ fiy Tartib al-Syarai’

Badriah, Lailatul (2026) Hadis-hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal perspektif ‘Ala’ al-Din Abi Bakr Ibn Mas’ud al-Kasani al-Hanafi dalam Badai’ Shanai’ fiy Tartib al-Syarai’. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

[img] Text (COVER)
COVER.pdf - Published Version

Download (703kB)
[img] Text (BAB I)
BAB 1.pdf - Published Version

Download (473kB)
[img] Text (BAB III)
BAB 3.pdf - Published Version

Download (309kB)
[img] Text (BAB V)
BAB 5.pdf - Published Version

Download (312kB)
[img] Text (FULL TEXT)
FULL TEXT.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Permasalahan penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pemahaman ulama terhadap hadis-hadis yang membolehkan pelaksanaan qadha puasa oleh wali bagi orang yang telah meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konteks hadis-hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal, mengetahui argumentasi Al-Kasani dalam memahami dan menilai hadis-hadis tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah analisis kritik sanad dan matan serta analisis deskriptif-komparatif. Data penelitian bersumber dari kitab-kitab hadis, kitab syarah hadis, kitab fikih, kitab ushul fikih, serta literatur ilmiah yang berkaitan dengan hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal dan metodologi kritik hadis ulama Ahnaf. Analisis dilakukan dengan mengkaji konteks hadis, kualitas sanad dan matan, serta kesesuaiannya dengan al-Qur’an, hadis yang lebih kuat, praktik sahabat, dan qiyas. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hadis-hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal memiliki konteks dan cakupan yang beragam. Hadis riwayat Aisyah RA memiliki redaksi umum yang secara zahir menunjukkan kebolehan wali berpuasa atas nama orang yang telah meninggal, sedangkan beberapa riwayat Ibn ‘Abbas memiliki konteks yang lebih khusus, terutama berkaitan dengan tanggungan puasa dan puasa nazar. Ulama Ahnaf tidak semata-mata menolak ke-shahih-an hadis-hadis tersebut, tetapi mengkritisi penerapan makna zahirnya berdasarkan pertimbangan Al-Qur’an, praktik sahabat, dan qiyas. Puasa dipandang sebagai ibadah badaniyah yang melekat pada pribadi seseorang sehingga tidak dapat diwakilkan setelah kematiannya. Oleh karena itu, penyelesaian tanggungan puasa diarahkan kepada pembayaran fidyah. Perbedaan konteks tersebut menunjukkan bahwa hadis-hadis qadha puasa bagi orang yang meninggal tidak dapat dipahami hanya berdasarkan makna zahir redaksi, tetapi perlu memperhatikan latar belakang dan kondisi yang melatarbelakangi munculnya hadis. Dengan demikian, keberagaman konteks hadis turut memengaruhi perbedaan ulama dalam memahami cakupan hukum qadha puasa bagi orang yang meninggal. Perbedaan pemahaman tersebut kemudian melahirkan keragaman pendapat dalam menentukan bentuk penyelesaian tanggungan puasa orang yang telah meninggal

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Hadis qadha puasa, konteks hadis, meninggal, pemahaman hadis.
Subjects: Agama Islam > Hadis dan Ilmu Berkaitan
Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Fiqih > Puasa
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Hadis
Depositing User: Ruang Baca FUSA
Date Deposited: 30 Sep 2026 08:33
Last Modified: 30 Sep 2026 08:33
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/36210

Actions (login required)

View Item View Item