HIDAYAT, TAUFIK (2026) Hukum Niat Dalam Berwudhu Menurut Imam Hanafi Dan Imam Syafi’i. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (BAB I)
TAUFIK HIDAYAT_NIM_1913020012_BAB I.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB III)
TAUFIK HIDAYAT_NIM_1913020012_BAB III.pdf - Published Version Download (798kB) |
|
|
Text (BAB V-DAFTAR PUSTAKA)
TAUFIK HIDAYAT_NIM_1913020012_BAB V-DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (689kB) |
|
|
Text (COVER-DAFTAR ISI)
TAUFIK HIDAYAT_NIM_1913020012_COVER-DAFTAR ISI.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
TAUFIK HIDAYAT_NIM_1913020012_FULLTEXT.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i mengenai konsep niat berwudhu dalam islam,khusus nya terkait tentang niat wudhu termasuk rukun dalam wudhu. Perbedaan tersebut berkenaan dengan dalil dan metode istinbath yang digunakan serta berimplikasi pada hukum niat dalam berwudhu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dalil dan metode istinbath Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i mengenai niat dalam berwudhu,mengidentifikasi penyebab perbedaan pendapat kedua mazhab, serta menentukan pendapat yang paling rajih. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan komparatif (al-fiqh al-muqaran) dan analisis data secara kualitatif-deskriptif. Sumber data primer berupa kitab-kitab fikih mazhab Hanafi dan Syafi’i, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku, jurnal, dan literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazhab Hanafi mengatakan bahwa niat dalam berwudhu tidak termasuk dalam rukun wudhu berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 6.Sementara itu, Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa niat termasuk rukun wudhu berdasarkan pada QS AlBayyinah ayat 5 dan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar Bin Khattab RA. Perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan dalam memahami lafaz al-Qur’an dan penggunaan dalil dalam istinbath hukum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendapat Imam al-Syafi‘i dinilai lebih kuat (al-ra jih) dalam menetapkan kewajiban niat dalam wudhu. Hal ini karena wudhu merupakan bentuk thaharah dari hadas yang memiliki konsekuensi hukum syar‘i, bukan sekadar kegiatan membersihkan anggota tubuh.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Niat wudhu,Mazhab Hanafi,Mazhab Syafi’i,Istinbath Hukum |
| Subjects: | Agama Islam Agama Islam > Fiqih (Hukum Islam) U Umum (General) > Hukum Agama Islam > Fiqih (Hukum Islam) > Bersuci |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Ruang Baca Fakultas Syariah |
| Date Deposited: | 23 Sep 2026 06:44 |
| Last Modified: | 23 Sep 2026 06:44 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/34869 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
