Wulandari, Fitria (2026) 'Iddah Wanita Akibat Cerai Gugat (Khulu’) Menurut Ibn Hazm (W. 456 H) dan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah (W. 751 H). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover-Daftar Isi)
Fitria Wulandari. NIM 2213020028. Cover- Daftar Isi.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB 1)
Fitria Wulandari. NIM 2213020028. BAB 1.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB III)
Fitria Wulandari. NIM 2213020028. BAB 3.pdf - Published Version Download (924kB) |
|
|
Text (BAB V dan Daftar Pustaka)
Fitria Wulandari. NIM 2213020028. BAB 5 dan Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
Fitria Wulandari. NIM 2213020028. Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (7MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat ulama mengenai masa ‘iddah bagi perempuan yang melakukan khulu’. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dalil dan metode istinbath yang digunakan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dan Ibn Hazm, mengetahui penyebab perbedaan pendapat keduanya, serta menentukan pendapat yang lebih relevan mengenai masa ‘iddah wanita akibat khulu’. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan sifat kualitatif deskriptif dan pendekatan perbandingan hukum. Sumber data primer penelitian ini adalah kitab Zad al-Ma‘ad fi Hady Khayr al-‘Ibad karya Ibn al-Qayyim al Jauziyyah dan kitab Al-Muhalla bi al-Atsar karya Ibn Hazm. Analisis data dilakukan dengan metode komparatif melalui kajian terhadap dalil, metode istinbath, sabab al-khilaf, dan tarjih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn al-Qayyim berpendapat ‘iddah khulu’ adalah satu kali haid karena khulu’ merupakan fasakh berdasarkan hadis istri Tsabit bin Qais. Sementara Ibn Hazm menetapkan tiga kali quru’ berdasarkan keumuman QS. Al-Baqarah ayat 228 bahwa khulu’ termasuk kedalam talak. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam memahami hakikat khulu’, hadis istri Tsabit, dan berbeda dalam penggunaan dalil dan kaidah ushul yang digunakan. Berdasarkan analisis, pendapat Ibn al-Qayyim lebih relevan karena sesuai dengan tujuan ‘iddah dalam memastikan bara’ah al-rahim dan kemaslahatan.Namun, pendapat Ibn Hazm tetap memiliki relevansi dalam aspek kehati-hatian
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | ‘Iddah, Khulu’, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Ibn Hazm |
| Subjects: | Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Fiqih > Hukum Keluarga, Perkawinan, Pernikahan Menurut Islam Agama Islam > Fiqih (Hukum Islam) > Perceraian Menurut Islam |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Ruang Baca Fakultas Syariah |
| Date Deposited: | 23 Sep 2026 02:22 |
| Last Modified: | 23 Sep 2026 02:22 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/34849 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
