Iswantir, Iswantir (2017) Pemikiran Azyumardi Azra Tentang Paradigma Keilmuan dan Kelembagaan(1998-2015)serta Implikasinya Terhadap Perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Doctoral thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Fulltext)
Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (10MB) |
Abstract
Azyumardi Azra adalah seorang pemikir dan pembaharu Islam yang mampu mendobrak sekat-sekat birokrasi, sehingga ia berhasil mentransformasi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Usaha Azra dalam menstrasformasikan IAIN menjadi UIN mendapatkan beberapa kritikan. Kritikan tersebut berasal dari dalam maupun luar kampus yang dipimpinnya. Kritik berkaitan dengan ciri khas IAIN, serta perubahan IAIN menjadi UIN. Lalu apa trade mark UIN? Maftuh Basyuni menyatakan “dengan kehadiran UIN, fakultas-fakultas agama menjadi tertinggal, maka “stop perubahan IAIN menjadi UIN”, selama saya menjadi menteri agama cukup hanya ada lima UIN. Bahkan sebahagian dari kalangan perguruan tinggi Islam masih mengkhawatirkan perubahan IAIN/STAIN menjadi UIN, karena akan mengkerdilkan fakultas-fakultas agama”. Rumusan masalah dalam penulisan disertasi ini adalah Seperti Apa Pemikiran Azra Tentang Paradigma Keilmuan dan Kelembagaan serta Implikasinya Terhadap Perkembangan UIN? Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan dan menganalisis pemikiran Azra tentang paradigma keilmuan dan kelembagaan serta implikasinya terhadap perkembangan UIN. Fokusnya ingin mengungkap dan menganalisis pemikiran Azra tentang paradigma keilmuan, paradigma kelembagaan, konteks paradigma keilmuan dan kelembagaan dalam pembaharuan pemikiran di Indonesia, serta implikasinya terhadap perkembangan UIN. Penelitian ini adalah penelitian tokoh dalam bentuk penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis, filosofis, sosio-kultaral-religi, tematik, fenomenologi dan pendekatan etnometodologi. Sumber primer adalah Azra dan tiga buah buku karyanya tentang pendidikan. Sumber sekunder adalah buku, makalah, dokumentasi tentang sambutan pidato Azra selama menjabat Rektor, SK Rektor masa Azra, dokumentasi tentang Azra dalam media massa, literatur-literatur yang relevan, baik berupa buku-buku, makalah, jurnal, disertasi, tesis, skripsi, dan lain sebagainya. Untuk memperkuat hasil penelitian, penulis menjadikan beberapa tokoh sebagai sumber sekunder Hasil penelitian pemikiran Azra tentang paradigma keilmuan adalah bahwa satu, ‘Ilm yang berarti pengetahuan (knowledge ), baik ilmu-ilmu qur’aniyyah maupun ilmu-ilmu kauniyyah. Pengembangannya memerlukan ‘reintegrasi’ di antara ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qur’aniyyah pada satu pihak dengan ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat-ayat kauniyyah pada pihak lain. Kedua, pemikiran Azra tentang paradigma kelembagaan adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN ) merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. IAIN secara keseluruhan tidak bisa mengisolasi diri dari perubahan-perubahan paradigma, konsep, visi, orientasi baru pengembangan pendidikan tinggi/perguruan tinggi (PT) nasional, bahkan internasional. IAIN juga dapat dikembangkan dengan konsep With Wider Mandate. Pendidikan IAIN tidak lagi terbatas pada mandat formal dalam ilmu-ilmu agama, tetapi juga mengembangkan mandat dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu eksakta. Perubahan IAIN menjadi UIN pada dasarnya merupakan tuntutan sejarah dan sejalan dengan ajaran Islam yang senantiasa menuntut ummatnya untuk berpikir, bekerja keras bagi kepentingan kemanusiaan sejalan dengan tuntutan zaman, karena dengan cara itulah Islam sebagai agama yang cocok untuk setiap zaman dan tempat ( shalihun likulli zamân wa al-makân ) dapat diwujudkan. Tanpa adanya kreatifitas dari umatnya, maka Islam sebagai rahmatan li al-‘alamîn tidak akan pernah terwujud. Ketiga, konteks paradigma keilmuan dan kelembagaan menurut Azra dalam pembaharuan pemikiran adalah ingin menghilangkan dikotomi keilmuan dengan membangun paradigma keilmuan integratif, yang secara ontologis dapat dilihat dari empat fungsi, yakni kognitif, konstitutif, komunikatif, dan efektif; secara epistimologis, paradigma integrasi ilmu di UIN Jakarta dibangun berlandaskan ilahiah, dengan menggunakan pola pikir sains dan pola pikir rasional; dan secara aksiologis adalah keterpaduan antara perolehan manfaat dengan kesadaran ruhiah; atau antara profesionalisme, kejujuran, obyektivitas dengan ibadah kepada Allah Swt. Dan keempat, implikasi paradigma keilmuan dan kelembagaan menurut Azra terhadap perkembangan UIN adalah semakin kuatnya posisi dan perannya, terutama sebagai pelopor dan penggerak pencerdasan maupun kemajuan umat (Islam ) dengan model reintegrasi keilmuan, sehingga UIN sudah dapat disebut sebagai centre of excelent bagi pengembangan keilmuan pada umumnya dan keilmuan Islam pada khususnya.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Subjects: | Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Filsafat dan Perkembangan Islam > Pembaharuan Pemikiran dalam Islam |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Doktor > Pendidikan Islam |
| Depositing User: | Zulfitri Zulfitri |
| Date Deposited: | 21 Jul 2026 07:07 |
| Last Modified: | 21 Jul 2026 07:07 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/34628 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
