Gibran, Muhammad (2026) Perluasan makna ayat tahkim perspektif tafsir Maqasidi. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover)
Cover.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB I)
BAB 1.pdf - Published Version Download (754kB) |
|
|
Text (BAB III)
BAB 3.pdf - Published Version Download (581kB) |
|
|
Text (BAB V)
BAB 5 dan Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (480kB) |
|
|
Text (Full Text)
Full Text.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya pemahaman tekstual terhadap ayat-ayat tahkim yang kerap dijadikan legitimasi untuk mengkafirkan pihak yang dianggap tidak menerapkan hukum Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna ayat tahkim berdasarkan aspek kebahasaan dan konteks historisnya, mengkaji penafsiran para mufasir terhadap ayat-ayat tersebut, serta memperluas maknanya melalui pendekatan tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim guna menemukan tujuan utama (maqāṣid) yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari Al-Qur’an, Tafsir al-Miṣbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Maqāṣidi karya Abdul Mustaqim, serta berbagai literatur yang berkaitan dengan tafsir, maqāṣid al-syari‘ah, dan isu pengkafiran (takfīr). Analisis dilakukan menggunakan pendekatan tafsir maqāṣidi yang menekankan pada aspek tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan oleh ayat, sehingga makna ayat tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual dan substantif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis kebahasaan, historis, serta aplikasi dari tafsir maqāṣidi, QS. al-Māidah ayat 44, 45, dan 47 tidak hanya dimaknai sebagai legitimasi untuk mengatakan kafir orang yang tidak mengikuti hukum Allah, namun juga mengandung tujuan utama yang berkaitan dengan upaya menjaga keadilan, kebenaran, dan keteraturan sosial berdasarkan nilai-nilai wahyu. Serta sebagai kritik terhadap praktik manipulasi hukum yang dilakukan secara sadar setelah mengetahui kebenaran wahyu. Melalui pendekatan tafsir maqāṣidi ditemukan bahwa maqāṣid utama ayat-ayat tahkim adalah penegakan keadilan, pemeliharaan kemurnian wahyu, dan pencegahan penyalahgunaan hukum atas nama agama. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam perlindungan agama (Hifẓ al-Dīn), jiwa (Hifẓ al-Nafs), akal (Hifẓ al-‘Aql), harta (Hifẓ al-Māl), keturunan (Hifẓ al-Nasl), negara (Hifẓ al-Daulah), dan kehidupan sosial yang harmonis (Hifẓ al-Bi’ah). Dengan demikian, predikat kafir, zalim, dan fasik dalam ayat-ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai peringatan etis terhadap perilaku penyimpangan dan manipulasi hukum, bukan sebagai identitas keagamaan yang dapat disematkan secara serampangan kepada pihak lain. Penelitian ini menegaskan bahwa perluasan makna ayat tahkim melalui pendekatan tafsir maqāṣidi mampu menghadirkan pemahaman yang lebih komprehensif, kontekstual, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Ayat Tahkim, QS. al-Māidah 44, 45, dan 47, Tafsir Maqāṣidi. |
| Subjects: | Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 26 Jun 2026 03:58 |
| Last Modified: | 26 Jun 2026 03:58 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/33449 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
