Muzammil, Fiqri (2026) Makna muthmainnah dalam QS Ali-Imran ayat 126 (Analisis semantik Toshihiko Izutsu). Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover)
Fiqri Muzammil. NIM 2215050188. Cover dll.pdf - Published Version Download (745kB) |
|
|
Text (BAB I)
Fiqri Muzammil. NIM 2215050188. BAB I.pdf - Published Version Download (512kB) |
|
|
Text (BAB III)
Fiqri Muzammil. NIM 2215050188. BAB III.pdf - Published Version Download (416kB) |
|
|
Text (Bab V)
Fiqri Muzammil. NIM 2215050188. BAB V dan Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (378kB) |
|
|
Text (FullText)
Fiqri Muzammil. NIM 2215050188. Fulltext 1.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi Kajian tafsir dan studi tematik sebelumnya cenderung memusatkan muthmainnah pada konteks nafs (jiwa) yang tenang merujuk QS. Al-Fajr: 27, sehingga relasinya dengan qalb (hati) serta konteks pertolongan Ilahi dalam QS. Ali-Imran ayat 126 kurang mendapatkan perhatian memadai. Berdasarkan temuan kajian pustaka tersebut, penelitian ini bertujuan menjelaskan makna dasar, makna relasional, aspek sinkronik-diakronik, serta weltanschauung kata muthmainnah dalam ayat tersebut.. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semantik Izutsu dan teknik analisis isi (content analysis). Sumber data primer adalah Al-Qur’an dan karya Toshihiko Izutsu Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, sedangkan sumber sekunder berupa kamus Arab klasik, kitab tafsir, dan literatur ilmiah terkait istilah muthmainnah dan semantik Al-Qur’an. Analisis dilakukan melalui penelusuran makna dasar, makna relasional (sintagmatik–paradigmatik), serta kajian sinkronik dan diakronik. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, makna dasar muthmainnah dari akar طَمْأَنَ mencakup ketenangan setelah kegelisahan, kestabilan, dan keadaan menetap. Kedua, makna relasionalnya mencakup puncak pencapaian jiwa, ketenangan semu karena dunia, makna menetap di bumi, keteguhan iman, dan ketenangan hati sebagai buah keyakinan kepada Allah. Ketiga, secara diakronik, makna muthmainnah bergerak dari dimensi fisik-material pra-Qur’anik menuju spiritual Qur’anik dan diperdalam dalam fikih, filsafat, serta tasawuf pasca-Qur’anik. Keempat, weltanschauung QS. Ali-Imran ayat 126 menegaskan ketenangan hati sebagai tujuan ilahiah yang bertumpu pada tauhid, melahirkan optimisme sejati, dan menjadikan hati sebagai medan perjuangan sebelum kemenangan lahiriah.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Muthmainnah, Semantik, Toshihiko Izutsu, QS. Ali-Imran Ayat 126, Weltanschauung |
| Subjects: | Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Kandungan Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 08:29 |
| Last Modified: | 28 Jul 2026 08:29 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/33417 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
