Hardianti, Siti (2026) Penafsiran QS An-Nisa ayat 3: Analisis Pendekatan Kontekstual Abdullah Saeed. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (cover)
Siti Hardianti-2215050044_Cover-Daftar Isi.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (Bab 1)
Siti Hardianti-2215050044_BAB I.pdf - Published Version Download (507kB) |
|
|
Text (Bab 3)
Siti Hardiant-2215050044_BAB III.pdf - Published Version Download (419kB) |
|
|
Text (Bab v-dapus)
Siti Hardianti-2215050044_BAB V-Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (431kB) |
|
|
Text (fulltext)
Siti Hardianti-2215050044_Skripsi Full Text-1.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji QS. An-Nisa ayat 34 dengan menggunakan pendekatan kontekstual Abdullah Saeed. Ayat ini sering dianggap melegitimasi kekerasan terhadap istri melalui frasa wadribuhunna. Anggapan ini muncul akibat dari pemahaman literal yang sempit tanpa mempertimbangkan konteks kebahasaan, historis, dan sosial budaya saat ayat diturunkan, sehingga melahirkan kesenjangan antara makna tekstual dan nilai-nilai keadilan universal yang memerlukan pendekatan interpretatif untuk menjembatani teks dan konteks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mereinterpretasi makna wadribuhunna dalam QS. An-Nisa ayat 34 secara kontekstual dengan menggunakan pendekatan Abdullah Saeed. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), melalui analisis langkah-langkah kontekstual Abdullah Saeed terhadap kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta berbagai literature yang mendukung tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, pesan universal QS. An-Nisa: 34 meliputi prinsip penyelesaian konflik secara bertahap (nasehat-pisah ranjang-tindakan tegas), larangan menganiaya istri, dan kepemimpinan suami bersifat fungsional. Kedua, bentuk teknis “pukulan” (wadribuhunna) bersifat partikular yang terikat pada budaya Arab abad ke-7, sebagaimana dibuktikan oleh keteladanan Nabi Muhammad yang tidak pernah memukul istri. Ketiga, formulasi makna baru wadribuhunna untuk konteks modern direinterpretasi secara metaforis sebagai pukulan psikologi dalam bentuk “pemberian hadiah” (receiving gift) di saat konflik, yang memiliki justifikasi linguistik dari variasi makna kata dharaba dalam al-Qur’an, didukung prinsip QS. Fussilat ayat 34 tentang membalas keburukan dengan kebaikan, serta selaras dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan universal. Namun, hal ini tidak berlaku untuk nusyuz syadid yang harus ditempuh melalui mediasi keluarga atau hukum formal Dengan demikian, pendekatan kontekstual Abdullah Saeed mampu menjembatani kesenjangan antara pemahaman literal dan kebutuhan modern, sehingga reinterpretasi wadribuhunna sebagai pemberian hadiah mewujudkan tujuan syariat yaitu ishlah tanpa kekerasan fisik dan relevan dengan konteks kekinian.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Abdullah Saeed, Kontekstual, QS. An-Nisa ayat 34 |
| Subjects: | Tajuk Subjek > 2x0 Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 07 Aug 2026 03:54 |
| Last Modified: | 07 Aug 2026 03:54 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/33394 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
