Hasibuan, Suria Hamdiah (2026) Penerima maqāman maḥmūdan dan maqāmin amīn dalam penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (cover)
Suria Hamdiah Hasibuan_2215050015_Cover-Abstrak.pdf - Published Version Download (2MB) |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version Download (517kB) |
|
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version Download (313kB) |
|
|
Text (BAB V-DAFTAR PUSTAKA)
BAB V-DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (329kB) |
|
|
Text (fulltext)
Suria Hamdiah Hasibuan_2215050015_Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan penelitian terdahulu yang lebih banyak membahas maqām dari sisi semantik, tasawuf, sementara kajian mengenai penerima maqām masih relatif terbatas. Selain itu, Maqāman Maḥmūdan dan Maqāmin Amīn umumnya dikaji secara terpisah dan belum banyak diteliti melalui pendekatan komparatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb mengenai penerima Maqāman Maḥmūdan dalam QS. al-Isrā’ [17]: 79 dan Maqāmin Amīn dalam QS. ad-Dukhān [44]: 51, serta faktor-faktor metodologis yang melatarbelakangi penafsiran keduanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) serta menggunakan metode tafsir muqaran. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir al-Qur’an al-’Azhim karya Ibnu Katsir dan Fi Zhilal al-Qur’an karya Sayyid Quthb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb sepakat memaknai Maqāman Maḥmūdan sebagai kedudukan terpuji yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW secara khusus. Ibnu Katsir menafsirkannya berlandaskan riwayat-riwayat hadits sebagai kedudukan syafa’at al-‘uzma, sedangkan Sayyid Quthb tetap mempertahankan kekhususan Nabi Muhammad SAW, namun memberikan penekanan bahwa nilai-nilai dalam tahajjud itu bisa mengantarkan umat kepada kedudukan di sisi Allah, sedangkan Maqāmin Amīn dipahami sebagai tempat yang aman dan penuh kenikmatan bagi orang-orang yang bertakwa di surga. Perbedaannya terletak pada penekanan makna, di mana Ibnu Katsir lebih menekankan aspek kenikmatan dan keamanan di surga berupa aman dari kematian, penderitaan, kesedihan, sedangkan Sayyid Quthb memaknai keamanan ini bukan aman dari fisik saja tetapi mencakup keamanan batin dan spiritual sebagai balasan dari komitmen ketakwaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan antara Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb lebih dipengaruhi oleh perbedaan metode dan sumber penafsiran yang digunakan, yaitu bil ma’tsur dan adabi ijtima’i. Analisis komparatif juga menunjukkan bahwa penyebutan Maqāman Maḥmūdan dalam QS. Al-Isrā' ayat 79 memiliki hubungan yang erat dengan perintah melaksanakan salat tahajjud, sebagaimana diperkuat oleh QS. al-Muzzammil ayat 2-5 dan ayat-ayat lain tentang shalat tahajjud. Syafaat kubra sebagai makna utama Maqāman Maḥmūdan tetap merupakan kekhususan Nabi Muhammad saw., namun nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ayat tersebut dapat diteladani oleh umat melalui keistiqamahan dalam melaksanakan salat tahajjud. Ibadah tersebut menjadi sarana peningkatan kualitas spiritual, kedekatan kepada Allah SWT, pembentukan akhlak mulia, serta memperoleh kemuliaan dan keberkahan dalam kehidupan dunia sebagai bekal menuju kebahagiaan di akhirat.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Maqāman Maḥmūdan, Maqāmin Amīn, Ibnu Katsir, Sayyid Quthb, Tafsir Komparatif. |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 14 Jul 2026 04:22 |
| Last Modified: | 14 Jul 2026 04:22 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/33277 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
