Luthfi, Musthafa (2026) Penafsiran Istitha'ah Dalam Q.S Ali-Imran Ayat 97 Analisis Teori Ma'na Cum Maghza. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover)
COVER AFI.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (Bab 1)
Bab 1 AFI-1.pdf - Published Version Download (818kB) |
|
|
Text (Bab 3)
Bab 3 AFI.pdf - Published Version Download (407kB) |
|
|
Text (Bab 5)
Bab 5 AFI.pdf - Published Version Download (441kB) |
|
|
Text (Full text skripsi)
SKRIPSI MUSTHAFA LUTHFI-2.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi dengan keadaan sebagian besar di lingkungan masyarakat yang tidak mengetahui makna dibalik makna istithā’ah (kemampuan) haji yang selama ini cenderung hanya dipahami sebatas aspek finansial dan fisik semata. Padahal, dalam realitas kontemporer, umat Islam dihadapkan pada kompleksitas baru seperti antrean kuota yang mencapai puluhan tahun, regulasi negara yang dinamis, hingga situasi darurat global seperti pandemi. Melalui penelitian ini, saya mencoba menelaah kembali penafsiran istithā’ah dalam QS. Ali-Imran [3]: 97 dengan menggunakan pisau analisis teori Ma’na cum Maghza yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin. Peneliti memilih teori ini karena kemampuan dalam menjembatani makna historis teks (ma’na) dengan pesan moral konseptual yang relevan bagi kehidupan modern (maghza). Metode penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka (library research), yang memakai pendekatan kualitatif yang bersifat menemukan teori. Sumber data penelitian berasal dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan keterangan mufassir terkait Q.S. Ali-Imran [3]: 97 yang berhubungan langsung dengan istithā’ah haji dalam al-Qur’an dari era klasik, modern hingga kontemporer yang secara sistematis menggali tiga lapisan makna. Pertama, peneliti menemukan bahwa secara historis (al-ma’na al-tarikhi). Kedua, dalam analisis signifikansi historis (al-maghza al-tarikhi). Ketiga, pada tahap signifikansi dinamis (al-maghza al-mutaharrik al-mu’ashirah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa istithā’ah saat ini tidak lagi bersifat individual, melainkan melibatkan kelayakan medis berbasis otoritas kesehatan, stabilitas ekonomi keluarga yang ditinggalkan, serta akses legalitas melalui birokrasi negara. Peneliti berargumen bahwa memaksakan haji dengan cara berutang atau mengabaikan keselamatan jiwa justru mencederai prinsip kemudahan (taysir) dalam syariat. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menegaskan bahwa redefinisi istithā’ah secara holistik sangat diperlukan agar kebijakan penyelenggaraan haji, khususnya di Indonesia, dapat berjalan lebih adil, rasional, dan tetap berpijak pada nilai-nilai substansial Al-Qur’an.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Penafsiran, Istitha'ah, Al-Qur'an, Ma'na Cum Maghza |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 06 Mar 2026 13:06 |
| Last Modified: | 06 Mar 2026 13:06 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/33051 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
