Zanaek, Zanaek (2026) Studi Kompratif Pendapat Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i Tentag Kewajiban Zakat Mal Atas Harta Orang Yang Sudah Meninggal. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (COVER - DAFTAR ISI)
ZANAEK_2213020029_Cover - Daftar Isi.pdf - Published Version Download (556kB) |
|
|
Text (BAB I)
ZANAEK_2213020029_BAB I.pdf - Published Version Download (500kB) |
|
|
Text (BAB III)
ZANAEK_2213020029_BAB III-1.pdf - Published Version Download (656kB) |
|
|
Text (BAB V - DAFTAR PUSTAKA)
ZANAEK_2213020029_BAB V - Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (280kB) |
|
|
Text (FULL TEXS)
ZANAEK_2213020029_Full Teks.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i terkait hukum zakat mal bagi orang yang sudah meninggal. Madzhab Hanafi berpendapat Zakat gugur dengan kematian sedangkan Madzhab Syafi'i berpendapat tidak gugur. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah kenapa terjadi perbedaaan pendapat antara Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i terkait hukum zakat mal bagi orang yang sudah meninggal. Adapun pertanyaan penelitian dalam skripsi ini 1) Apa dalil dan metode istinbath yang digunakan Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i Madzhab Syafi'i terkait hukum zakat mal bagi orang yang sudah meninggal? 2) Apa penyebab terjadinya perbedaan pendapat antara Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i Madzhab Syafi'i terkait hukum zakat mal bagi orang yang sudah meninggal. 3) Manakah pendapat yang paling relevan terkait terkait hukum zakat mal bagi orang yang sudah meninggal antara Madzhab Hanafi dan Madzhah Syafi'i Madzhab Syafi'i? Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan metode fiqih muqaranah. Hasil penelitian ini adalah 1) Menurut Mazhab Hanafi, kewajiban zakat mal bagi orang yang telah meninggal dunia gugur setelah wafatnya pemilik harta. Dalil yang digunakan adalah Al-Qur'an surah An-Najm ayat 39 yang ditakhsis oleh Al-Qur'an surah Ath-Thur ayat 21 dan hadis tentang kepemilikan harta, sehingga zakat dipandang sebagai ibadah yang mensyaratkan niat dan pelaksanaan langsung oleh muzakki dan tidak dapat ditunaikan setelah kematian kecuali melalui wasiat. Sebaliknya, Mazhab Syafi'i berdalil pada Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 60 dan hadis tentang utang kepada Allah, menempatkan zakat sebagai kewajiban yang melekat pada harta, sehingga tetap wajib ditunaikan dari harta peninggalan.. 2) enyebab perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi'i terletak pada pemahaman hadis dan kedudukan zakat. Mazhab Hanafi menafsirkan hadis tentang kepemilikan harta sebagai penggugur kewajiban zakat dan memandang zakat sebagai hak Allah yang gugur dengan kematian muzakki. Sebaliknya, Mazhab Syafi'i menegaskan bahwa zakat tetap wajib ditunaikan setelah kematian sebagai hak mustahiq dari harta peninggalan sebelum pembagian warisan.3) Pendapat yang paling rajih adalah Mazhab Syafi'i karena dalilnya tegas menegaskan kewajiban zakat tetap melekat pada harta setelah kematian, sejalan dengan kaidah fiqh dan tujuan syariah dalam menjaga hak mustahiq, sehingga memberikan kepastian hukum dalam pengelolaan harta peninggalan.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | HANAFI, SYAFI'I, ZAKAT, ORANG MENINGGAL. |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Fiqih > Zakat |
| Divisions: | Fakultas Syariah |
| Depositing User: | Ruang Baca Fakultas Syariah |
| Date Deposited: | 03 Mar 2026 02:56 |
| Last Modified: | 03 Mar 2026 02:56 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/32159 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
