Dinamika Peranan Depati Biang Sari Kerinci Pada Masa Kolonial Belanda (1902–1942)

Pritania, Nayes (2026) Dinamika Peranan Depati Biang Sari Kerinci Pada Masa Kolonial Belanda (1902–1942). Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.

[img] Text (cover)
COVER - DAFTAR ISI.pdf - Published Version

Download (488kB)
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (369kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (BAB IV)
BAB IV - Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (285kB)
[img] Text (fulltext)
NAYES PRITANIA SKRIPSI FINAL (1).pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Kerinci memiliki sistem pemerintahan adat yang kuat melalui struktur Depati IV Alam Kerinci yang bersifat konfederensi. Salah satu depati IV Alam Kerinci yang memiliki peran sentral adalah Depati Biang Sari. Masuknya kolonial Belanda pada awal abad ke-20 membawa perubahan dalam struktur kekuasaan adat di Kerinci. Melalui strategi divide et impera, pemerintah kolonial menata ulang sistem pemerintahan lokal dengan memecah kesatuan politik adat dan memasukkan elite setempat ke dalam sistem administrasi kolonial. Dalam situasi inilah posisi dan peranan Depati Biang Sari berada dalam dinamika perubahan yang perlu dikaji secara historis dan analitis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah asal usul Depati Biang Sari serta menganalisis dinamika peranannya pada masa kolonial Belanda tahun 1902–1942 dengan menggunakan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi serta pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Belanda, Depati Biang Sari merupakan pemimpin adat yang otonom dan memiliki legitimasi kuat, namun setelah ekspedisi militer Belanda tahun 1903 dan penataan ulang pemerintahan kolonial, peranannya mengalami pergeseran menjadi Kepala Mendapo Pengasi dengan kewenangan terbatas, sementara kebijakan kolonial seperti perizinan perjudian turut melemahkan otoritas adat dan peran syarak. Kesimpulannya, kebijakan kolonial Belanda menyebabkan perubahan mendasar dalam peranan Depati Biang Sari dari pemimpin adat yang mandiri menjadi elite lokal yang tersubordinasi, yang berdampak pada melemahnya legitimasi adat dan integrasi Kerinci ke dalam sistem kolonial Belanda.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Depati Biang Sari, kolonial Belanda, Kerinci, pemerintahan adat.
Subjects: Tajuk Subjek > Sejarah, Geografi, Biografi
Divisions: Fakultas Adab dan Humaniora > Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Ruang Baca FAH
Date Deposited: 30 Mar 2026 07:12
Last Modified: 30 Mar 2026 07:12
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/31928

Actions (login required)

View Item View Item