Istiqumah, Istiqumah (2022) Peran Akal dan Wahyu Dalam Pandangan Harun Nasution (1919-1998). Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover)
cover Istiqumah.pdf - Published Version Download (757kB) |
|
|
Text (Bab 1)
bab 1 istiqumah.pdf - Published Version Download (379kB) |
|
|
Text (Bab 3)
bab 3 Istiqumah.pdf - Published Version Download (201kB) |
|
|
Text (Bab 5)
bab 5 Istiqumah.pdf - Published Version Download (257kB) |
|
|
Text (Fulltext)
sekripsi istiqumah fiksssss.pdf.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penulisan skripsi ini dilatar belakangi dengan akal yang mana akal adalah unsur penting dalam kalangan manusia untuk membedakan nya dengan hewan. Karena ada nya akal manusia dapat membedakan baik buruk nya sesuatu yang di perbuat nya, yang mana akal ini sangat penting dalam unsur aqidah. Kata akal berasal dari kata ‘aqala berarti mengikat dan menahan yang dapat di maknai dengan dapat nya manusia menahan hawa nafsu nya. Terdapat di dalam al-Quran akal di tetapkan posisi nya yang amat tinggi karna akal sangat penting dalam ke hidupan manusia. Wahyu dapat diartikan sebagai qalam atau utusan Allah yang mana disampai kan kepada Rasul nya untuk di sampai kan kepada umat nya. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam skripsi ini yaitu dengan library research (kepustakaan), Adapun sumber primernya dari naskah Harun Nasution (Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisis Pebandingan), (Akal dan Wahyu Dalam Islam) dan (Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran). Serta sumber sekundernya dari buku, risalah attauhid kemudian tulisan orang berupa skrpsi, jurnal dan lain. Hasil penelitian ini melihat bahwa menurut Harun Nasution menunjukkan bahwa akal manusia memang mampu sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada lewat melihat keteraturan alam, sebab-akibat, atau renungan filosofis. Tapi akal punya keterbatasan yaitu dia bisa tahu "ada Tuhan", tapi tidak bisa tahu Tuhan itu seperti apa, mau apa dari kita, dan bagaimana cara berhubungan dengan-Nya. Disinilah wahyu hadir, bukan untuk membatalkan kesimpulan akal, melainkan melengkapi dan memperjelasnya. Kemudian, akal dan wahyu bukan musuhan, tapi saling melengkapi. Harun Nasution percaya bahwa manusia sebenarnya sudah punya semacam "kompas moral" bawaan lewat akalnya. Dapat diketatahui bahwa berbohong itu buruk, membantu orang itu baik, tanpa harus diberi tahu langsung oleh wahyu. Namun, penilaian akal ini kadang bias, terpengaruh budaya, atau tidak konsisten. Wahyu datang memberikan kepastian, menegaskan yang memang benar-benar baik dan buruk, sekaligus menjelaskan mengapa sesuatu itu baik atau buruk menurut standar Tuhan. Jadi wahyu itu seperti "kunci jawaban" yang memastikan kita tidak salah jalan dalam menentukan nilai moral. Harun Nasution mengajak seseorang untuk menggunakan akal secara maksimal, tapi tidak membuatnya jadi satu-satunya sumber kebenaran Akal itu penting dan harus dipakai, tapi dia tetap membutuhkan bimbingan wahyu supaya tidak salah arah.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Akal, wahyu, Harun Nasution |
| Subjects: | Tajuk Subjek > Agama Islam > Filsafat dan Perkembangan Islam > Filsafat Islam |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Aqidah dan Filsafat Islam |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 01 Mar 2026 08:32 |
| Last Modified: | 01 Mar 2026 08:32 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/31889 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
