Sriani, Melda Lala (2025) Analisis Hikmah Larangan Pernikahan Sepersusuan dalam Hadis Rasulullah menurut Perspektif Sains. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (Cover-Daftar Isi)
Cover-Daftar isi.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB 1)
BAB I LALAAA Watermark.pdf - Published Version Download (626kB) |
|
|
Text (BAB 3)
BAB III LALAAA Watermark.pdf - Published Version Download (652kB) |
|
|
Text (BAB 5 - Daftar Pustaka)
Bab V - Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (420kB) |
|
|
Text
Skripsi Full Lala.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini membahas larangan pernikahan sepersusuan dalam perspektif sains. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dasar-dasar syar‘i yang melandasi keharaman pernikahan karena persusuan, serta mengidentifikasi relevansi ilmiah dari larangan tersebut melalui pendekatan biologis dan imunologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis, dengan mengandalkan sumber-sumber hadis sahih, kitab-kitab fiqh mazhab, serta literatur ilmiah terkini dari bidang biologi dan kedokteran. Yang artinya menggambarkan bagaimana larangan pernikahan sepersusuan, data yang diperoleh analisis dengan pendekatan hikmah perspektif sains dengan memfokuskan aspek sains terkait hadis sepersusuan pada kajian imunologis dan genetic. Berdasarkan penelitian ini, peneliti mendapatkan beberapa hasil. Hasil penelitian ini membahas larangan pernikahan sepersusuan dengan tiga fokus utama. Pertama, kajian hadis menunjukkan adanya tiga hadis yang menjadi dasar hukum larangan tersebut, yaitu hadis Aisyah r.a. yang menegaskan bahwa persusuan menimbulkan keharaman sebagaimana nasab, hadis tentang penolakan Nabi SAW menikahi putri Hamzah r.a. yang menjadi contoh penerapan hukum dalam praktik, serta hadis tentang kedudukan paman sepersusuan yang memperluas cakupan mahramiyah. Kedua, pemahaman ulama terhadap hadis-hadis tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan, mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat satu kali susuan cukup menetapkan keharaman, sedangkan mazhab Syafi‘i dan Hanbali mensyaratkan lima kali susuan sempurna dalam dua tahun pertama, sementara ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi menekankan relevansi sosial dan medis meski mayoritas fatwa tetap pada syarat lima kali susuan. Ketiga, dari perspektif sains modern, larangan ini tidak hanya bersifat syar‘i tetapi juga memiliki dasar sosial dan biologis, karena proses menyusui menciptakan ikatan imunologis, risiko genetik, dan keterikatan emosional yang menyerupai hubungan darah, sehingga sejalan dengan prinsip menjaga kesehatan keturunan, martabat, serta stabilitas sosial. Secara ilmiah, air susu ibu (ASI) terbukti mentransfer antibodi, sel imun, dan materi genetik yang menciptakan kedekatan biologis antara ibu susu dan anak susu, bahkan di antara anak-anak sesusuan. Temuan ilmiah ini memperkuat validitas hukum Islam yang menetapkan larangan tersebut. Dengan demikian, larangan pernikahan sepersusuan tidak hanya berdasar pada pertimbangan normatif agama, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Islam menetapkan hukum ini sebagai bentuk perlindungan terhadap kejelasan nasab, kehormatan keluarga, serta kesehatan biologis dan psikososial generasi mendatang. Penelitian ini mengungkap bahwa ajaran Islam telah mengantisipasi dampak yang baru bisa dijelaskan melalui perkembangan ilmu pengetahuan modern. Kata Kunci: Pernikahan Sepersusuan, Hadis, Sains.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Pernikahan Sepersusuan, Hadis, Sains |
| Subjects: | Agama Islam Agama Islam > Hadis dan Ilmu Berkaitan Agama Islam > Hadis dan Ilmu Berkaitan > Ilmu Hadits |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Ilmu Hadis |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 10 Sep 2025 03:47 |
| Last Modified: | 10 Sep 2025 03:47 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/31137 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
