Wahid, M. (2025) Konsep Deep Ecology Arne Arne Naes Dan Relevansinya Dengan Nilai-Nilai Keislaman. Skripsi thesis, UIN Imam Bonjol Padang.
|
Text (BAB 1)
M. Wahid NIM 2115010062 BAB 1.pdf - Published Version Download (595kB) |
|
|
Text (BAB 3)
M. Wahid NIM 2115010062 BAB 3.pdf - Published Version Download (627kB) |
|
|
Text (BAB 5)
M. Wahid NIM 2115010062 BAB 5.pdf - Published Version Download (495kB) |
|
|
Text (FULL)
M. Wahid NIM 2115010062 Full.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Krisis lingkungan hidup global yang semakin mengkhawatirkan bukan hanya disebabkan oleh persoalan teknis semata, melainkan juga oleh krisis nilai dan cara pandang manusia terhadap alam. Skripsi ini membahas konsep Deep Ecology yang digagas oleh filsuf Norwegia Arne Naess sebagai pendekatan filosofis dan etis dalam merespons krisis ekologis yang terjadi. Deep Ecology menolak paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat, dan mengajukan paradigma ekosentris yang mengakui nilai intrinsik semua makhluk hidup serta keterhubungan mendalam antara manusia dan alam. Menariknya, gagasan Deep Ecology memiliki titik temu dengan nilai-nilai keislaman. Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil-‘alamin menempatkan hubungan manusia dengan alam dalam kerangka etika ilahiah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi konsep Deep Ecology Arne Naess dan relevansinya dengan nilai-nilai keislaman. Bagaimana prinsip-prinsip dasar Deep Ecology, bagaimana hubungannya dengan Islam serta upaya untuk menerapkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara kepustakaan. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap karya-karya Arne Naess dan literatur sekunder yang relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip utama Deep Ecology, serta menelaah sejauh mana hubungannya dengan nilai-nilai Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat titik temu yang signifikan antara prinsip Deep Ecology dan nilai-nilai keislaman. Prinsip nilai intrinsik alam sejalan dengan pandangan Islam bahwa segala ciptaan Allah memiliki hikmah larangan eksploitasi berlebihan sesuai dengan ajaran Islam tentang israf; serta prinsip keseimbangan ekologis dalam Deep Ecology selaras dengan konsep mizan dalam Al-Qur’an. Perbedaan mendasar hanya terletak pada fondasi: Deep Ecology berangkat dari filsafat sekuler, sedangkan Islam mendasarkan pada tauhid dan spiritualitas. Dengan demikian, Islam dapat memperkaya Deep Ecology dengan basis teologis yang lebih komprehensif. Penelitian ini juga menegaskan bahwa integrasi Deep Ecology dengan Islam dapat diwujudkan dalam praktik nyata, seperti pendidikan lingkungan Islami, gerakan hidup sederhana, ekonomi berkelanjutan, fiqh al-bi’ah, gerakan sosial berbasis komunitas, etika konsumsi Islami, hingga revitalisasi spiritualitas ekologis. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pembangunan paradigma lingkungan yang utuh, holistik, dan transendental, serta dapat menjadi rujukan etis dalam menjawab krisis lingkungan global.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Deep Ecology, Arne Naess, krisis lingkungan, Islam |
| Subjects: | U Umum (General) > Filsafat |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Aqidah dan Filsafat Islam |
| Depositing User: | Ruang Baca FUSA |
| Date Deposited: | 07 Sep 2025 10:30 |
| Last Modified: | 07 Sep 2025 10:30 |
| URI: | http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/30539 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
