Makna Lafaz Wālidain dan Abawain dalam Al-Qur’an (Analisis Semiotika Roland Barthes)

Azizah, Zahra Baiti Nur (2025) Makna Lafaz Wālidain dan Abawain dalam Al-Qur’an (Analisis Semiotika Roland Barthes). Masters thesis, UIN Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover - Daftar Isi)
Cover - Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (930kB)
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (280kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (214kB)
[img] Text (BAB V - Daftar Pustaka)
BAB V - Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (235kB)
[img] Text (Fulltext)
Fulltext.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna dua lafaz dalam Al-Qur’an yang sering dianggap sinonim, yaitu wālidain dan abawain, yang sama-sama berarti “kedua orang tua.” Secara morfologis dan kontekstual, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan: wālidain berasal dari akar walada yang menekankan aspek biologis-afektif, sedangkan abawain berasal dari bentuk ganda ab yang menekankan aspek sosial, genealogis, dan struktural. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dari kedua lafaz tersebut. Metode penelitian adalah kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: identifikasi ayat yang mengandung lafaz wālidain (17 ayat) dan abawain (4 ayat), penelaahan makna denotatif berdasarkan leksikografi klasik dan tafsir muʿtabar, serta pembacaan konotasi dan mitos dengan kerangka Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wālidain dominan muncul dalam konteks spiritual-afektif, mencakup perintah berbuat ihsān, wasiat dan warisan, doa dan syukur, larangan durhaka, teladan doa para nabi, serta refleksi atas pengorbanan orang tua. Sebaliknya, abawain muncul dalam konteks struktural-ideologis, yaitu hukum waris, sejarah penciptaan manusia, kisah kenabian Yusuf, dan takdir ilahi yang menjaga iman. Dengan demikian, Al-Qur’an membentuk dua konstruksi simbolik: wālidain merepresentasikan orang tua secara biologis-afektif penuh kasih dan pengorbanan, sedangkan abawain merepresentasikan orang tua secara sosial-ideologis dalam hukum, sejarah, dan risalah. Penelitian ini menegaskan prinsip lā tarāduf (tiadanya sinonimitas sempurna) dalam Al-Qur’an, sekaligus memperlihatkan kontribusi semiotika Barthes dalam memperkaya kajian tematik Qur’ani melalui pembacaan makna hingga lapisan ideologis.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Al-Qur’an, wālidain, abawain, semiotika, Roland Barthes, mitos Qur’ani
Subjects: Agama Islam > Al-Qur'an dan Ilmu Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Program Pascasarjana > Program Magister > Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Depositing User: Pusat Riset Pascasarjana
Date Deposited: 02 Sep 2025 04:39
Last Modified: 02 Sep 2025 04:39
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/27190

Actions (login required)

View Item View Item