Pandangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi'i Tentang Hukuman Had bagi Pezina yang Belum Menikah

Rambe, Sukri Mannan (2025) Pandangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi'i Tentang Hukuman Had bagi Pezina yang Belum Menikah. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

[img] Text (Cover dll)
Sukri Mannan Rambe - 2113020037 -Cover - Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (BAB I.)
BAB I.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (BAB III .)
BAB III.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (BAB V-Daftar Pustaka .)
BAB V-Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (386kB)
[img] Text (fulltext)
Sukri Mannan Rambe-2113020037-FULL TEXT.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i tentang hukuman had bagi pezina yang belum menikah. Mazhab Hanafi berpendapat hukuman bagi pezina yang belum menikah adalah di cambuk seratus kali, sedangkan Mazhab Syafi’i berpendapat hukumannya adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan selama 1 tahun. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah bagaimana hukuman had bagi pezina yang belum menikah menurut pandangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i. Adapun pertanyaan penelitian dalam skripsi ini adalah 1) Apa dalil yang digunakan oleh Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i tentang hukuman had bagi pezina yang belum menikah? 2) Apa penyebab terjadinya perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i tentang hukuman had bagi pezina yang belum menikah? 3) Manakah pendapat yang terkuat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i tentang hukuman had bagi pezina yang belum menikah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian dengan menelaah kitab-kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan masing-masing Mazhab. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka penulis menyimpulkan dalil yang digunakan oleh Mazhab Hanafi bersumber pada Qs An-Nur ayat 2 dan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sedangkan dalil yang digunakan Mazhab Syafi’i adalah Hadis, kemudian yang menjadi faktor penyebab perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i adalah berbeda dalam ushul yaitu tentang pennasakhkan pada ayat itu, berbeda dalam memahami tentang apakah nash bisa di nasakh oleh hadis ahad, Mazhab Hanafi berpendapat tidak boleh sedangkan Mazhab Syafi’i dan sebagian jumhur Ulama berpendapat boleh, kemudian berbeda dalam memahami hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan pendapat yang paling kuat adalah Mazhab Syafi’i, di karenakan berdalsalrkaln dallil yalng digunalkaln Malzhalb Syalfi’i, menurut penulis lebih kualt di kalrenalkaln Mazhab Syafi’i tetap menggunakan dalil Qs An-Nur ayat 2, kemudian ayat ini di tambah dengan hadist shahih. Oleh kalrenal itu menurut penulis dengaln aldalnyal dallil dalri Malzhalb Syalfi’i yalitu haldis sebalgali penjelals balgalimalnal alturaln sesuali syalrialt islalm mengenali hald zinal, kemudian Mazhab Syafi’i berbeda pendapat dengan Mazhab Hanafi tentang hukuman bagi pezina yang belum menikah dengan menambahkan hukuman pengasingan bagi pezina yang belum menikah, dalam hal ini Mazhab Syafi’i menggunakan hadist yang shahih untuk menetapkan hadnya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Had, Pezina, Belum Menikah, Mazhab Hanafi, Syafi’i
Subjects: Tajuk Subjek > Agama Islam > Fiqih > Hukum Pengadilan Islam, Hukum Perdata Islam
Agama Islam > Fiqih (Hukum Islam) > Perbandingan Mazhab
Divisions: Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab
Depositing User: Ruang Baca Fakultas Syariah
Date Deposited: 07 Mar 2025 00:33
Last Modified: 07 Mar 2025 00:33
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/24628

Actions (login required)

View Item View Item