RELASI KEKUASAAN SIMBOLIK MANDEH RUBIAH DI LUNANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

DEPRIANTO, ADEP (2018) RELASI KEKUASAAN SIMBOLIK MANDEH RUBIAH DI LUNANG KABUPATEN PESISIR SELATAN. Skripsi thesis, UIN IB PADANG.

[img]
Preview
Text (COVER, PERSETUJUAN PEMBIMBING, PENGESAHAN PENGUJI, ABSTRAK)
COVER dan PERSETUJUAN.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version

Download (3MB)
[img] Text (BAB II)
BAB II.pdf - Published Version

Download (2MB)
[img]
Preview
Text (BAB III)
BAB III.pdf - Published Version

Download (5MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB V)
BAB V.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB VI)
BAB VI.pdf - Published Version

Download (574kB) | Preview
[img] Text (DAFTAR KEPUSTAKAAN)
DAFTAR KEPUSTAKAAN.pdf - Published Version

Download (556kB)
[img] Text (SKRIPSI LENGKAP)
SKRIPSI LENGKAP.pdf - Published Version

Download (21MB)

Abstract

ABSTRAK Studi ini mengangkat tema tentang relasi kekuasaan simbolik Mandeh Rubiah di Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. Studi ini dilatarbelakangi oleh sosok Mandeh Rubiah yang diyakini oleh masyarakat Lunang sebagai pewaris kebesaran tahta Bundo Kanduang; seorang Ratu perempuan dari kerajaan Istana Pagaruyuang. Sebagai tokoh tradisional, Mandeh Rubiah sangat dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat setempat. Kepatuhan masyarakat ini terutama disebabkan oleh masyarakat sendiri yang menempatkan Mandeh Rubiah sebagai sosok yang keramat. Tidak hanya masyarakat, pemerintahan Nagari Lunang juga menempatkan Mandeh Rubiah sebagai tokoh yang penting. Dalam hal-hal tertentu masyarakat merasa memiliki keharusan untuk meminta nasihat dan berkah dari Mandeh Rubiah. Bahkan hampir setiap kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Lunang, Mandeh Rubiah selalu ditempatkan pada sisi yang diagungkan. Sehingga dengan loyalitas dan kepatuhan masyarakat inilah yang pada akhirnya Mandeh Rubiah sebagai simbol kultural tradisional; pewaris tahta kebesaran Bundo Kanduang menjadi pemimpin sekaligus memiliki kekuasaan dalam masyarakat Lunang. Melihat persoalan tersebut, maka studi ini memfokuskan bagaimana pola kekuasaan yang dimainkan oleh Mandeh Rubiah yang dilihat dari aspek kegiatan sosial dan keagamaan dalam masyarakat Lunang; kemudian simbol keagamaan apa saja yang melekat pada Mandeh Rubiah; dan makna simbol keagamaan tersebut. Untuk menjelaskan persoalan ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi agama. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan pertama, bahwa pola kekuasaan yang dimainkan oleh Mandeh Rubiah dalam masyarakat Lunang adalah kombinasi antara pola kekuasaan Minang dan Jawa. Hal itu terlihat dalam kegiatan sosial lebih mendominasi peran Mandeh Rubiah dari Ninik Mamak dan kegiatan keagamaan yang dihubungkan dengan keberadaan Mandeh Rubiah adalah Maulid Nabi SAW, shalat Tarawih, shalat Idul Fitri, Ziarah dan Tolak Bala. Kedua, simbol-simbol keagamaan yang melekat pada Mandeh Rubiah seperti tasbih, Rumah Gadang dan makam Bundo Kanduang dimaknai sebagai benda dan tempat yang keramat yang tidak bisa terpisahkan dengan keberadaan Mandeh Rubiah. Dengan kata lain, selain Mandeh Rubiah sebagai icon dalam masyarakat Lunang, simbol-simbol keagamaan yang melekat pada Mandeh Rubiah itu juga menjadi kekuatan dan kesakralan dalam mewujudkan identitas Mandeh Rubiah dalam masyarakat Lunang. Kata Kunci: Mandeh Rubiah, Bundo Kanduang, Relasi Kekuasaan, Simbol

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: U Umum (General)
U Umum (General) > Referensi Umum dan Terbitan Berseri
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Studi Agama-Agama
Depositing User: Users 35 not found.
Date Deposited: 23 Jul 2018 03:10
Last Modified: 23 Jul 2018 03:10
URI: http://repository.uinib.ac.id/id/eprint/1396

Actions (login required)

View Item View Item